Definisi Pornografi
Sumardia
(2006) mengatakan bahwa secara garis besar yang dimaksud
pornografi adalah substansi dalam media
atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan
atau erotika. Sedangkan
yang dimaksud pornoaksi adalah perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, atau erotika di muka
umum. Pornografi
dan pornoaksi merupakan sebuah bentuk dari penyimpangan tingkah laku seseorang. Tingkah laku yang menyimpang adalah tingkah laku
yang tidak adekwat, tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, dan tidak sesuai dengan norma sosial yang ada
(Kartini Kartono, 2001:12)
Penyebab Pornografi
Perkembangan teknologi yang sangat
cepat. Teknologi yang semakin modern,
memungkin penggunanya untuk dapat mengakses informasi dengan sangat cepat. Maka
dengan bantuan internet, video tersebut dapat tersebar luas dengan hitungan
menit kesemua daerah di seluruh nusantara. Penetrasi penyebaran video tersebut
semakin meluas dengan bantuan koneksi data yang juga semakin canggih, seperti bluetooth dan dari komputer ke handphone atau sebaliknya. Teknologi tidak dapat
disalahkan apalagi dihambat perkembangannya karena justru akan merugikan
manusia itu sendiri. Yang salah adalah pengguna teknologi yakni manusia itu
sendiri
Semakin berkurang nilai-nilai
pendidikan moral di setiap jenjang pendidikan formal. Mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.
Pendidikan cenderung diarahkan kepada pencapaian kemampuan kognitif saja.
Walaupun di dalam tiga aspek pendidikan juga terkandung ranah psikomotor dan afektif
(sikap), namun tetap saja tidak mampu memberikan solusi bagi persoalan
degradasi moral bangsa ini. Hal ini disebabkan karena ranah afektif yang
dimaksud adalah sikap dan minat siswa terhadap masing-masing bidang studi yang
sedang mereka pelajari. Jadi, ranah afektif yang dimaksud bukanlah sikap moral
dan nilai etika yang mampu meninggikan derajat manusia karena keelokan budi
pekerti.
Dampak Negatif
Pornografi pada anak-anak
Dampak negatif pornografi pada anak-anak. Kecanduan pornografi mengakibatkan otak bagian tengah
depan yang disebut Ventral Tegmental Area (VTA) secara fisik mengecil.
Penyusutan jaringan otak yang memproduksi dopamine–bahan kimia pemicu rasa
senang– itu menyebabkan kekacauan kerja neurotransmiter yakni zat kimia otak
yang berfungsi sebagai pengirim pesan. Dalam hal ini, pornografi menimbulkan
perubahan konstan pada neorotransmiter dan melemahkan fungsi kontrol. Sehingga secara
berantai dapat mengakibatkan antara lain: (a) Orang
yang sudah kecanduan tidak bisa lagi mengontrol perilakunya, berkurangnya rasa
tanggung jawab bahkan akan mengalami gangguan memori. Kondisi tersebut terjadi
melalui beberapa tahap yakni kecanduan yang ditandai dengan tindakan impulsif,
ekskalasi kecanduan, desensitifisasi dan akhirnya penurunan perilaku. (b) Ketidakmampuan mengontrol batasan perilaku tersebut
menimbulkan kecenderungan lebih besar untuk depresi. (c) Saat dewasa anak-anak yang biasa menyaksikan
pornografi hanya memandang wanita sebagai objek seksual saja. (d) Bila kondisi sosialnya kurang harmonis bisa melakukan
kekerasan seksual dan phedophilia. (Hilton)
Pencegahan
Poronografi
Untuk mencegah dan menanggulangi pornografi,
penguatan keluarga sebagai unit terkecil masyarakat memegang peranan penting
dalam menata tata nilai kehidupan. Karena itu, keluarga harus diperkuat dari
sisi kualitas sumberdaya manusia maupun pembagian peran dan tata kelola rumah
tangga.
Dikatakan Jofizal, seseorang yang teradiktif
pornografi, bisa disembuhkan dengan mengikuti empat hal: (1) Punya motivasi diri untuk
membebaskan diri dari adiksi dan memiliki kemauan melakukan apa yang diperlukan
untuk sembuh. Anda tidak dapat memaksa seseorang untuk sembuh jika dia tidak
ingin. (2) Menciptakan
lingkungan aman. (3) Ber-afiliasi dengan support group. (4) Individu
harus memilih seorang konselor atau terapis
yang mempunyai pelatihan khusus dan sukses dalam menangani kasus adiksi seks.
Bisa dipastikan, pornografi dapat menyebabkan
adiksi dan mempengaruhi struktur otak dan hubungan psikososial, sehingga
mempengaruhi intelegensia seseorang. Sesuai dengan fungsi otak, maka secara
langsung dan tidak langsung terjadi kemunduran inteligensia. Untuk mengatasi
adiktif pornografi adalah dengan pengendalian spiritual, yang meliputi: kontrol
diri, membimbing kebutuhan, pendampingan dari orangtua, pengalihannya dengan
Olahraga.
Simpulan
Pornografi dapat berakibat buruk pada anak, adalah tugas orangtua untuk
mengawasi dan menjaga anak-anaknya supaya tidak berlarut-larut dan akhirnya
sang anak menjadi ketagihan atau melakukan tindakan kriminal akibat pornografi.
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar